Wali Kota Ambon Buka Gerakan Lingkungan Berkelanjutan, Tekankan Kolaborasi Atasi Persoalan Sampah

  • Administrator
  • Kamis, 20 Agustus 2026 12:47
  • 0 Lihat
  • PEMERINTAHAN

Ambon,CM - Wali Kota Ambon Bodewin.M. Wattimena secara resmi membuka kegiatan Kolaborasi Gerakan Lingkungan Berkelanjutan yang melibatkan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia Kawasan Amerika-Eropa (PPIDK AMEROP), peraih Kalpataru 2026 Wutmaili Romuty atau yang akrab disapa Bapak Uce, serta sejumlah pegiat lingkungan.

Kegiatan yang merupakan bagian dari Pengabdian Masyarakat 2026 Kabinet Mandala Siddhayatra PPIDK AMEROP tersebut berlangsung di Ruang Rapat Vlissingen, Balai Kota Ambon, Kamis (20/8/2026).

Dalam sambutannya, Bodewin menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan salah satu tantangan perkotaan yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat melalui kolaborasi yang berkelanjutan.

“Persoalan sampah, kemacetan, kerusakan lingkungan dan berbagai persoalan perkotaan lainnya tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Kita membutuhkan kerja bersama dengan seluruh pihak,” kata Wattimena

Ia menjelaskan, pemerintah memang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah, baik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia maupun penyediaan infrastruktur yang memadai.

Namun, pengelolaan sampah menurutnya tidak cukup hanya dengan mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) menuju tempat pemrosesan akhir (TPA).

“Intinya adalah sampah harus diselesaikan dari sumbernya. Kalau sampah hanya dibawa ke TPS kemudian ke TPA, itu bukan pengolahan sampah, tetapi hanya memindahkan atau melokalisasi sampah pada tempat tertentu,” ujarnya.

Karena itu, Ia menilai perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam mengatasi persoalan sampah di Kota Ambon.

Menurutnya, berbagai program dan infrastruktur yang dibangun pemerintah akan sulit memberikan hasil maksimal apabila masih terdapat masyarakat yang membuang sampah ke sungai maupun saluran air.

“Pemerintah mau membuat cara apa pun dan bekerja bersama dengan semua pihak, tetapi kalau masyarakat tidak sadar, percuma. Kalau masih ada perilaku membuang sampah di sungai dan di got, masalah sampah di kota ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Ia juga menyinggung upaya Pemerintah Kota Ambon bersama berbagai mitra dalam mencegah sampah masuk ke Teluk Ambon. Salah satunya melalui pemasangan jaring penahan sampah di sejumlah muara sungai.

Menurutnya, jaring tersebut tidak hanya berfungsi menahan sampah, tetapi sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Namun, hasil di lapangan justru menunjukkan masih tingginya volume sampah yang dibuang ke sungai.

“Jaring itu sebenarnya kita pasang untuk menghalangi sampah masuk ke laut sekaligus mengedukasi masyarakat supaya tidak membuang sampah ke sungai. Tetapi setelah dipasang, setiap hari sampah yang tertahan bisa mencapai sekitar 300 kilogram dari tiga jaring,” ungkapnya.

Kondisi tersebut, kata Wattimena, menjadi peringatan bahwa persoalan utama bukan hanya pada sistem pengangkutan dan pengolahan, tetapi juga pada perilaku masyarakat.

Ia mengingatkan, sampah yang dibuang ke sungai pada akhirnya akan bermuara ke laut dan menambah beban pencemaran Teluk Ambon.

“Kalau kita berpikir membuang satu plastik ke sungai itu tidak masalah, lama-lama akan menjadi masalah besar bagi Teluk Ambon. Beban pemerintah juga semakin besar karena biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut dan membuang sampah terus meningkat,” katanya.

Wattimena juga mendorong agar masyarakat tidak melihat sampah semata-mata sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah, menurutnya, dapat dikelola, digunakan kembali, didaur ulang, bahkan menjadi sumber ekonomi.

Ia mengapresiasi berbagai inovasi yang dilakukan para pegiat lingkungan dalam mengubah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

“Jadi sampah bukan hanya soal dibuang. Sampah bisa diproses dengan baik, dimanfaatkan kembali, didaur ulang, bahkan bisa menjadi sumber ekonomi bagi kita,” ujarnya

Ia berharap pengalaman dan praktik baik yang dilakukan para pegiat lingkungan, termasuk Wutmaili Romuty, dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dan dapat diterapkan dalam program pengabdian masyarakat PPIDK AMEROP, khususnya dalam upaya menjaga lingkungan di Banda Neira.

Ia memberikan apresiasi kepada PPIDK AMEROP yang melibatkan anak-anak muda Indonesia dari berbagai negara dalam kegiatan pengabdian masyarakat.

Menurutnya, ilmu pengetahuan yang diperoleh para pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri harus dapat diwujudkan dalam bentuk kontribusi nyata bagi daerah dan bangsa.

“Anak-anak muda ini memiliki ilmu pengetahuan yang luar biasa. Tinggal bagaimana mereka berkomitmen untuk menerapkannya sebagai kontribusi bagi daerah, bangsa dan negara,” katanya.

Ia juga menilai kolaborasi tersebut menjadi langkah penting dalam membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan, tidak hanya untuk kepentingan masyarakat saat ini, tetapi juga generasi mendatang.

“Kita tidak hanya menikmati kehidupan di kota ini hari ini, tetapi memiliki tanggung jawab besar untuk mewariskan sesuatu yang baik bagi generasi yang akan datang,” tandasnya.

Ia berharap gerakan tersebut dapat terus berkembang dan melibatkan semakin banyak pihak, sehingga upaya menjaga lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

“Selamat atas kolaborasi yang luar biasa ini. Pemerintah akan terus memberikan dukungan, semangat dan motivasi. Mudah-mudahan kegiatan ini berjalan dengan baik dan teman-teman PPIDK AMEROP dapat terus berkontribusi bagi daerah dan Indonesia,” pungkasnya. ( CM/ML)

Komentar

0 Komentar