Yasinan Pascaiduladha, Warga Binaan Lapas Wahai Larut dalam Doa dan Refleksi Diri

  • Administrator
  • Kamis, 28 Mei 2026 13:01
  • 10 Lihat
  • DAERAH

Wahai, CM– Suasana haru dan khusyuk menyelimuti Masjid At-Taubah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat puluhan Warga Binaan mengikuti kegiatan Yasinan dan doa bersama, Kamis (28/5) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kerohanian sekaligus wujud rasa syukur usai perayaan Iduladha 1447 Hijriah.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam masjid, dipimpin petugas pembinaan kerohanian Lapas. Dengan penuh kekhidmatan, para Warga Binaan membaca Surat Yasin dan memanjatkan doa, memohon ampunan serta ketenangan batin di tengah masa pembinaan yang dijalani.

Momen tersebut juga menjadi ruang refleksi diri bagi para Warga Binaan untuk memaknai nilai pengorbanan, keikhlasan, dan harapan memperbaiki kehidupan di masa mendatang.

Salah seorang Warga Binaan berinisial AG mengaku bersyukur masih diberi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan melalui kegiatan keagamaan di dalam Lapas.

“Di balik jeruji besi ini, kami merasa damai dan bersyukur masih bisa berkumpul bersama teman-teman membaca Yasin. Momen kurban kali ini mengingatkan kami untuk terus ikhlas dan berharap menjadi manusia yang lebih baik lagi saat kembali ke masyarakat nanti,” ungkapnya penuh haru.

Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai, La Joi, mengatakan kegiatan Yasinan merupakan salah satu program pembinaan spiritual yang rutin dilaksanakan guna membentuk mental dan karakter positif Warga Binaan.

Menurutnya, Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan, tetapi juga momentum introspeksi diri untuk memperkuat keimanan dan memperbaiki akhlak.

“Iduladha mengajarkan nilai pengorbanan dan keikhlasan. Kami berharap momentum ini benar-benar menjadi refleksi diri bagi Warga Binaan untuk terus memperbaiki akhlak, istikamah dalam beribadah, dan menjadikan masa hukuman ini sebagai proses transformasi menuju pribadi yang bermanfaat,” ujar La Joi.

Apresiasi terhadap konsistensi pembinaan keagamaan di Lapas Wahai juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Ia menilai pembinaan spiritual menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter Warga Binaan agar siap kembali ke tengah masyarakat.

“Pembinaan kerohanian adalah fondasi utama dalam pembentukan karakter Warga Binaan. Melalui Yasinan dan doa bersama, diharapkan dapat meredam emosi, menumbuhkan ketenangan batin, dan memperkuat keimanan mereka. Ini menjadi bekal spiritual yang sangat penting agar mereka kembali ke tengah keluarga dan masyarakat dengan pribadi yang jauh lebih baik,” jelas Ricky.

Kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekeluargaan. Lapas Wahai memastikan program pembinaan kerohanian akan terus digelar secara rutin sebagai upaya menjaga stabilitas mental, spiritual, dan perilaku positif Warga Binaan selama menjalani masa pidana.(CM/ML/**)

Komentar

0 Komentar