post image

Lapas Geser Lestarikan Tari Sawat Lewat Pembina Warga

  • Administrator
  • 01 Sep 2026
  • DAERAH
  • 19 Lihat

Geser, CM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser terus menghadirkan program pembinaan yang kreatif dan berbasis kearifan lokal. Kali ini, Lapas Geser menggelar pelatihan seni Tari Sawat dan musik tradisional Seram Bagian Timur bagi para Warga Binaan, Selasa (1/9).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kepribadian yang tidak hanya bertujuan mengembangkan keterampilan seni Warga Binaan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan warisan leluhur Maluku.

Dalam pelaksanaannya, Subseksi Pembinaan Lapas Geser berkolaborasi dengan para peserta magang yang terlibat langsung sebagai instruktur dan pendamping kegiatan.

Para Warga Binaan diajarkan berbagai gerakan Tari Sawat sekaligus teknik memainkan alat musik tradisional yang menjadi pengiring tarian, seperti tifa, rebana dan suling.

Staf Pembinaan Lapas Geser, Raul F. Attamimi, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu bentuk pembinaan kepribadian berbasis seni dan budaya.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat positif bagi Warga Binaan selama menjalani masa pembinaan, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal.

“Pelatihan Tari Sawat dan musik pengiringnya ini adalah bentuk pembinaan kepribadian berbasis seni dan budaya. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mempererat hubungan emosional antara petugas dan warga binaan, sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur,” ujar Raul.

Ia menjelaskan, Tari Sawat merupakan salah satu tarian tradisional yang berkembang di Maluku, termasuk di Kabupaten Seram Bagian Timur. Tarian tersebut hingga kini masih sering ditampilkan dalam berbagai kegiatan budaya maupun keagamaan.

Melalui pelatihan tersebut, Lapas Geser berharap Warga Binaan tidak hanya mampu mempelajari gerakan dan musik pengiring Tari Sawat, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Salah satu peserta magang yang terlibat dalam kegiatan tersebut, Abdul Muthalib Killian, mengaku melihat antusiasme tinggi dari para Warga Binaan.

“Mereka sangat bersemangat mempelajari setiap gerakan tari dan ketukan musik pengiring. Kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan pengisi waktu, tetapi juga sarana edukasi yang sangat positif bagi mereka selama menjalani masa pidana,” tutur Abdul.

Menurutnya, keterlibatan peserta magang dalam program pembinaan tersebut merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mendukung proses pembinaan di lingkungan pemasyarakatan.

“Kami ingin menjadikan pelatihan ini sebagai sarana bagi warga binaan untuk mengekspresikan bakat, sekaligus upaya nyata dalam melestarikan tarian budaya dan mengembangkan musik tradisional di Kabupaten Seram Bagian Timur,” ungkapnya.

Respons positif juga datang dari salah satu Warga Binaan berinisial AR yang mengikuti pelatihan.

Ia mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman dan keterampilan baru, sekaligus menjadi ruang positif untuk mengembangkan kreativitas selama menjalani masa pidana.

“Melalui kegiatan ini, kami memperoleh keterampilan baru yang sangat berharga, baik dalam menari Sawat maupun memainkan musik pengiringnya. Ini menjadi wadah yang sangat positif bagi kami untuk mengisi waktu luang dengan hal-hal yang produktif dan membangun,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Geser, Nober Hasanda, menegaskan bahwa pembinaan berbasis seni dan budaya merupakan bagian dari pendekatan humanis yang terus dikembangkan di lingkungan Lapas.

Menurutnya, pelestarian budaya lokal juga dapat menjadi sarana pembentukan karakter dan memberikan bekal positif kepada Warga Binaan sebelum kembali ke tengah masyarakat.

“Lapas Geser berkomitmen untuk terus berinovasi dalam menghadirkan program pembinaan yang menyentuh hati dan relevan dengan kebutuhan warga binaan. Pelestarian budaya melalui Tari Sawat dan musik Tifa ini adalah salah satu langkah kami untuk membentuk karakter warga binaan yang lebih baik,” ujar Nober.

Ia berharap, melalui berbagai keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program pembinaan, Warga Binaan dapat memiliki bekal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.

“Kami berharap mereka siap kembali ke tengah masyarakat dengan membawa bekal keterampilan serta rasa cinta yang mendalam terhadap budaya sendiri,” pungkasnya. ( CM/ML/**)

0 Komen